Monday, March 30, 2009

imam at thobari

بسم الله الرحمن الرحيم

BIOGRAFI SINGKAT IMAM AT THOBARI DAN METODE PENTAFSIRAN BELIAU

"JAMI'UL BAYAN FIE AHKAMIL QUR'AN"

Wekku: "Fikris Shofa"

I. KELAHIRAN DAN NASAB BELIAU

Muhammah bin Jarir bin Yazid bin Katsir seorang imam, ulama' dan mujtahid, ulama' abad ini, kunyahnya Abu Ja'far Ath Thobari.

Beliau dari penduduk Aamuly daerah Thobristan.[1]

Beliau dilahirkan pada akhir tahun 224 H awal tahun 225.

Ayah beliau bersemangat dalam mendidik beliau untuk menuntut ilmu padahal saat itu beliau masih kecil. Ibnu Jarir berkata: "Aku sudah hafal Al Qur'an ketika aku berumur 7 tahun, dan sholat bersama manusia (jadi imam) ketika berumur 8 tahun, dan mulai menulis hadist ketika berumur 9 tahun, dan ayahku bermimpi, bahwa aku berada di depan Rosululloh dengan membawa tempat yang penuh dengan batu, lalu aku lemparkan didepan Rosululloh. Lalu penta'bir mimpi berkata kepada ayahku: "Sekiranya nanti beranjak dewasa dia akan berguna bagi diennya dan menyuburkan syare'atnya, dari sinilah ayahku bersemangat dalam mendidikku.[2]

Beliau banyak bersafar dan berguru dengan ahli sejarah, beliau juga salah seorang yang memiliki ilmu banyak, dan cerdas, banyak karangannya dan belum ada yang menyamainya.

Guru beliau 40 orang lebih, diantaranya: "Muhammad bin Abdul Malik in Abi Asy Syawarib, Ismail bin Musa As Suddi, Ishaq bin Abi Isroil, Muhammad bin Abi Ma'sar dan yang lainnya. (didalam tafsir beliau didapatkan, bahwa guru beliau berjumlah 62 guru).

II. KEILMUAN DAN KESUNGGUHAN BELIAU

Abu Sa'id berkata: "Muhammaad bin Jarir berasal dari daerah Aamal, menulis di negri mesir. Lalu pulang ke Bagdad, dan telah mengarang beberapa kitab yang menumental, dan itu menunjukkan luasnya ilmu beliau.

Al Khotib berkata: "Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib: "Beliau adalah salah satu aimmah Ulama' (sesepuh ulama'), perkataannya bijaksana dan selalu dimintai pendapatnya karena pengetahuannya dan kemulyaannya. Beliau telah mengumpulkan ilmu-ilmu yang tidak penah ada seorangpun yang melakukannya semasa hidupnya. Beliau adalah seorang Hafidz, pandai ilmu Qiro'at, ilmu Ma'ani faqih tehadap hukum-hukum Al Qur'an, tahu sunnah dan ilmu cabang-cabangnya, serta tahu mana yang shohih dan yang cacat, nasikh dan mansukhnya, Aqwalus Shohabah dan Tabi'in, tahu sejarah hidup Manusia dan keadaanya. Beliau memiliki kitab yang masyhur tentang "sejarah umat dan beografinya" dan kitab tentang "tafsir" yang belum pernah ada mengarang semisalnya dan kitab yang bernama "Tahdzibul Atsar" yang belum pernah aku (Imam Adz Dzahabi) lihat semacamnya, namun belum sempurna. Beliau juga punya kitab-kitab banyak yang membahas tentang "Ilmu Ushul Fiqih" dan pilihan dari aqwal para Fuqoha'.[3]

Imam Adz Dzahabi berkata: "Beliau adalah orang Tsiqoh, jujur, khafidz, sesepuh dalam ilmu tafsir, imam (ikutan) dalam ilmu fiqh, ijma' serta (hal-hal) yang diperselisihkan, alim tentang sejarah dan harian Manusia, tahu tentang ilmu Qiro'at dan bahasa, serta yang lainnya.

Al Khotib berkata: "Aku mendengar Ali bin Ubaidillah bercerita: "Sesungguhnya Muhammad bin Jarir dirumah selama 40 th, setiap harinya beliau menulis 40 lembar.[4]

Al Qodhi Abu Abdillah Al Qudho'i: "Ali bin Nashir bin Ash Shobah telah menceritakan kepada kami, Abu Umar Uabidillah bin Ahmad As Simsar, dan Abul Qosim Al Waroq: "Bahwa ibnu Jarir At thobari berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Bagaimana pendapat kalian, bila aku akan menulis tentang sejarah alam dari sejak Adam sampai sekarang ini? Mereka bertanya: "Berapa banyakkah itu? Maka beliau menjawab, kira-kira 30 ribu lembar, lalu mereka berkata: " kalau begitu umurmu akan memutus pekerjaanmu sebelum engkau bisa menyempurnakannya? Lalu beliau sadar, dengan berkata: "Innaalillah! Lalu beliau mengurungkan niatnya. Kemudian beliau ringkas karangan itu sebanyak 3000 lembar, dan ketika beliau ingin membuat tafsir, berkata kepada mereka seperti itu.[5]

III. MADZHAB DAN AQIDAH BELIAU

Al Faroghi berkata: "Harun bin Abdul Aziz bercerita kepadaku:" Abu Ja'far At Thobari berkata: "aku memilih Madzhab imam Syafi'I, dan aku ikuti beliau di Bagdad selama 10 tahun.[6]

Bahwa beliau sebelum mencapai derajat mujtahid beliau bermadzhab Syafi'I, peryatan ini didapatkan dalam kitab "Thobaqotul Kubro" milik Ibnu As Sabki.

As Suyuthi berkata dalam kitab "Thobaqotul Mufassirin" hal: 3: "Pertama, beliau bermadzhab Syafi'I, lalu membuat madzhab sendiri, dengan perkataan-perkataan dan petikan-petikan sendiri, dan beliau mempunyai pengikut yang mengikutinya.[7]

Adapun aqidah beliau aqidah salafus Soleh ahlus sunnah wal jamaah.[8]

IV. MENGENAL KITAB TAFSIR BELIAU

Imam An Nawawi dalam Tahdzibnya mengemukakan: "Kitab Ibnu Jarir dalam bidang tafsir adalah sebuah kitab yang belum seorangpun ada yang pernah menyusun kitab yang menyamainya.[9]

Tafsir Ibnu Jarir dianggap tafsir yang paling lurus dan paling masyhur. Kitab tafsir itu (terkenal dengan Kitab Jami'ul Bayan fie tafsir Al Qur'an) adalah merupakan referensi utama para ahli tafsir dalam menafsirkan Al Qur'an secara Naqli, walaupun tidak sedikit juga yang menjadikannya sebagai rujukan dalam menafsirkan Al Qur'an sacara 'aqli, melihat bahwa dalam surat itu terdapat istimbat (dalil), dan mengarahkan perkataan-perkataan. Ada juga pentarjihan sebagian pendapat dengan pendapat yang lain, pentarjihan yang tidak lepas dari peran kecerdasan akal beliau.

Tafsir beliau ini berjumlah 30 juz besar. Bahkan kitab tafsir ini hampir hilang dan dianggap sudah menghilang, namun Allah mentaqdirkan muncul kembali ketika didapatkan satu naskah manuskrip tersimpan dalam penguasaan seorang amir yang telah mengundurkan diri, yaitu Amir Hamud bin 'Abdur Rasyid, salah seorang penguasa Najd. Tidak lama kemudian kitab tersebut diterbitkan dan beredar luas sampai ditangan kita, menjadi sebuah ensiklopedi yang kaya tentang tafsir bil Ma'tsur.

Imam Asy Syuyuthi berkata: "Kitab ibnu Jarir adalah semulya-mulya dan seagung agungnya kitab tafsir (yang sampai kepada kita). Didalamnya beliau mengemukakan berbagai macam pendapat dan mempertimbangkan mana yang lebih kuat, serta membahas I'rob dan istimbat. Karena itulah ia melebihi tafsir-tafsir karya para pendahulu."[10]

An Nawawi berkata: "Umat telah bersepakat tidak ada yang menyamai tafsir beliau ini."[11]

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah: "Adapun tafsir-tafsir yang ditangan manusia, yang paling dahulu adalah tafsir Ibnu Jarir Ath thobari, bahwa beliau (Ibnu jarir) menyebutkan perkataan salaf dengan sanad-sanad yang tetap, dan tidak ada bid'ah sama sekali, dan tidak menukil dari orang yang muttahim, seperti Muqotil bin Bakir[12] dan Al Kalbi.[13]

Bahkan tafsir ini pada aslinya lebih luas dari yang telah ada sekarang ini, lalu beliau meringkas sampai yang ada pada saat sekarang ini, sebagaimana kitab tarikh beliau yang pada aslinya panjang, namun beliau ringkas, seperti yang ada pada saat sekarang ini. Sebagaimana disebutkan oleh As Sabki dalam Thobaqoh Kubronya juz: 2, hal: 138, Bahwa Abu Ja'far berkata kepada para sahabatnya: ""Bagaimana pendapat kalian, bila aku akan menulis tentang tafsir Al Qur'an? Mereka bertanya: "Berapa banyakkah itu? Maka beliau menjawab, kira-kira 30 ribu lembar, lalu mereka berkata: "kalau begitu umurmu akan memutus pekerjaanmu sebelum engkau bisa menyempurnakannya? Lalu beliau mengurungkan niatnya. Kemudian beliau ringkas karangan itu sebanyak 3000 lembar. Kemudian "Bagaimana pendapat kalian, bila aku akan menulis tentang sejarah alam dari sejak Adam sampai sekarang ini? Mereka bertanya: "Berapa banyakkah itu? Maka beliau menjawab, kira-kira 30 ribu lembar, lalu mereka berkata: " kalau begitu umurmu akan memutus pekerjaanmu sebelum engkau bisa menyempurnakannya? Lalu beliau sadar, dengan berkata: "Innaalillah! Lalu beliau mengurungkan niatnya. Kemudian beliau ringkas karangan itu sebanyak 3000 lembar, dan sekiranya beliau ingin membuat tafsir berkata kepada mereka seperti itu.[14]

Dari sinilah bisa katakan, bahwa Tafsir Ibnu Jarir adalah tafsir yang pertama-tama diantara kitab-kitab tafsir, baik awal dari segi zaman atau unggul dari segi tata bahasanya. Adapun unggul dari segi zaman adalah karena, tafsir ini adalah yang satu-satunya sampai kepada kita.

V. METODE BELIAU DALAM MENAFSIRKAN AYAT

Metode beliau dalam menafsirkan Al Qur'an akan lebih jelas lagi jika kita mau menelaah kitab tafsir beliau. Maka yang pertama kali akan kita lihat, bahwa beliau bila ingin menafsirkan Al Qur'an berkata: "القول في التأويل قول تعالى كذا وكذا "

"Pendapat mengenai ta'wil (tafsir) firman Allah ini begini dan begitu".

Kemudian beliau tafsirkan ayat tersebut dengan berdasarkan pada pendapat para sahabat dan tabi'in yang dengan sanad yang lengkap, dan inilah yang disebut dengan tafsir Bil Ma'tsur (dan bukan tafsir bir ro'yi bahkan beliau mengingkari orang yang menafsirkan dengannya). Beliau memaparkan segala riwayat yang bekenaan dengan ayat, namun tidak hanya sekedar mengemukakan riwayat semata, melainkan ia juga mengkonfrontir pendapat-pendapat (riwayat-riwayat) tersebut satu dengan yang lain lalu mentarjihkan salah satunya. Disamping itu ia juga menerangkan aspek I'rob jika ini dianggap perlu dan mengistimbatkan sejumlah hukum.[15]

Lebih jelasnya kita akan paparkan poin-poin penting dalam menafsirkan Al Qur'an:

A. Sikap ingkar beliau terhadap orang yang menafsirkan hanya dengan akal saja

Beliau menganggap bahwa satu-satunya metode tafsir yang baik hanyalah dengan meruju' kepada Al Qur'an dan As Sunnah serta meruju' kepada pendapat para Sahabat dan Tabi'in, melalui penukilan yang benar. Dan beliau mengingkari dari kalangan mufassirin yang menafsirkan hanya dengan akal semata atau disebutkan hadist dan ayat untuk menafsirkan, namun ia lencengkan ma'nanya.

Salah satu contoh adalah seperti dalam surat Yusuf, ayat: 49.

§NèO ÎAù'tƒ .`ÏB Ï÷èt/ y7Ï9ºsŒ ×P%tæ ÏmŠÏù ß^$tóムâ¨$¨Z9$# ÏmŠÏùur tbrçŽÅÇ÷ètƒ ÇÍÒÈ

"Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memerasanggur."

Kita dapatkan beliau menyebutkan yang ada dalam tafsir ayat ini perkataan dari salam dan menerangkan bacaan-bacaan yang di butuhkan dalam menafsirkan ayat ini. Kemudian beliau menerangkan dengan tafsir bir Ro'yi tanpa bersandar pada pendapatnya sendiri, akan tetapi dengan menggunakan bahasa saja. Maka beliau memakai perkataannya dan menggurkan akalnya. Berikut ini pengakuan beliau: "…..Sebagian ahli tafsir yang tidak tahu tentang perkataan salaf , yaitu mereka yang menafsirkan dengan akalnya, ia mema'nai kalimat (وفيه يعصرون) yang artinya "dan didalam masa itu mereka memeras anggur", dengan "dan didalam masa itu ia diselamatkan dari kekeringan dengan hujan", ia mengira hujan itu termasuk Al 'Ashr yang berma'na yang menyelamatkan.

Dan ta'wil semacam ini cukup menjadi saksi atas kesalahannya yang menyelisihi perkataan seluruh ahli Ilmu dari shohabat dan Tabi'in.

Dan juga: "Seperti dalam surat Al Baqoroh ayat: 65.

ôs)s9ur ãLäê÷HÍ>tã tûïÏ%©!$# (#÷rytFôã$# öNä3YÏB Îû ÏMö6¡¡9$# $oYù=à)sù öNßgs9 (#qçRqä. ¸oyŠtÏ% tûüϫš»yz ÇÏÎÈ

"Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka:"Jadilah kamu kera yang hina"."

Dalam ayat ini beliau menyebutkan: "Bercerita kepadaku Al Mutsanna berkata: "Abu Hudzaifah berkata kepada kami: "berkata subul, dari Ibnu Abi Juraij dari Mujahid, tentang ayat ini ia berkata: "Bahwa yang dirubah menjadi kera itu hatinya bukan diri mereka". Hanyasannya ini adalah serupa dengan peumpamaan yang disebutkan oleh Allah kepada mereka, yaitu "seperti khimar yang membawa kitab-kitab yang tebal". Kemudian Ibnu Jarir setelah itu menjelaskan perkataan Mujahid itu dengan: "Dan perkataan yang dikatakan oleh Mujahid ini adalah perkataan yang secara dhohir ayat itu bertentangan dengan pernyataan itu……. Selanjutnya bisa dilihat dalam tafsir beliau.

Contoh yang lain masih dalam surat Al Baqoroh: ayat : 229.

y7ù=Ï? ߊrßãn «!$# Ÿxsù $ydrßtG÷ès? 4 `tBur £yètGtƒ yŠrßãn «!$# y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqãKÎ=»©à9$# ÇËËÒÈ

"Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim."

Kita bisa dapatkan beliau meriwayatkan dari Dhohak tentang ayat ini: "Bahwa orang yang mentholaq selain pada masa 'iddah maka sungguh melampai batas dan bebuat dholim terhadap dirinya sendiri…..." kemudian beliau berkata: "dan yang disebutkan oleh Adh Dhohak ini tidak ada ma'nanya, karena tidak berlaku tholaq dalam masa iddah. Hanyasannya iddah itu ada bagi yang mentholak rojj'I dan tidak tholak yang lainnya.

B. Peran beliau terhadap sanad

Walaupun beliau, (Ibnu Jarir) konsisten terhadap metode tafsirnya yang seperti itu, yaitu dengan menyebutkan riwayat-riwayat plus dengan sanad-sanadnya namun beliau tidak menyebutkan mana yang shohih dan mana yang dho'if. Itu dikarenakan beliau telah keluar dari perjanjian (yaitu meringkas tafsir beliau). Bersamaan dengan itu beliau terkadang kritis terhadap sanad tak ubahnya seperti kritikus yang berpengalaman, maka beliau menta'dilkan yang adil, dan menjarh yang cacat, menolak riwayat yang tidak syah riwayatnya, dan mengutarakan pendapatnya. Sebagai satu contoh: "dalam surat Al Kahfi, ayat ke-93: "

ö@ygsù ã@yèøgwU y7s9 %¹`öyz #n?tã br& Ÿ@yèøgrB $oYuZ÷t/ öNßgoY÷t/ur #ty ÇÒÍÈ t

"Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?"

Baliau berkata: "Diriwayatkan dari Ikrimah tentang ayat itu (yaitu tentang dhomah atau fathahnya huruf "siiin" dalam lafadz "As Suda") yaitu hadist yang diriwayatkan Ahmad bin Yusuf, ia berkata: bercerita kepada kami Al Qosim, Hajjaj, dari Harun dari Ayub, dari Ikrimah ia berkata: "yang biasa dipakai Bani Adam, yaitu dengan dibaca: "ass sada" dengan memakai fathah, tapi kalau kalau dari Allah adalah memakai dhomah "ass suda". Kemudian menerangkan sanad ini: "Adapun yang disebutkan dari Ikrimah itu maka itu sama dengan yang dinukil dari Ayub Harun, tapi dalam penukilannya diperselisihkan, dan kami tidak mengetahui riwayat dari Ayub yang sahabatnya tsiqoh.[16]

C. Menentukan ijma'

Kita dapatkan juga Ibnu Jarir di dalam tafsir beliau, dengan menetapkan atau menentukan ijma'. Sebagai contoh adalah surat Al Baqoroh ayat: 230.

bÎ*sù $ygs)¯=sÛ Ÿxsù @ÏtrB ¼ã&s! .`ÏB ß÷èt/ 4Ó®Lym yxÅ3Ys? %¹`÷ry ¼çnuŽöxî

"Kemudian jika si suami menthalaknya (sesudah talak yang kedua),maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain".

Beliau berkata: "jika ada orang berkata: "Nikah mana yang dimaksudkan oleh Allah dalam firmanNya itu? Nikah jima'kah atau nikah yang dimaksud adalah akad pernikahan itu sendiri? Ada yang mengatakan kedua-duanya, yaitu bahwa seorang wanita bila nikah dengan seorang laki-laki, tapi belum di gaulinya lalu dicerai maka tidak halal bagi suami yang pertama. Begitu juga jika ada yang menggaulinya tapi tidak melalui nikah maka tidak halal juga untuk dinikahi oleh suami pertama, menurut ijma' ulama'. Maka sudah menjadi ma'lum bahwa ta'wil (tafsir) firman Allah itu: adalah nikah yang sebenarnya, kemudian digaulinya, lalu di tholak. Apabila ada yang mengatakan: "sesungguhnya penyebutan Jima' tidak didapatkan dalam Al Qur'an, apa dalil yang mendukung bahwa yang dimaksud ayat itu adalah jima'? di katakan: "bahwa dalilnya adalah ijma' umat seluruhnya bahwa ma'nanya adalah seperti itu".[17]

D. Sikap beliau tentang ilmu qiroa't terhadap tafsir Al Qur'an

Kita dapatkan juga dalam tafsirnya, beliau menyebutkan juga ilmu-ilmu bacaan dalam Al Qur'an. Beliau banyak menolak bacaan-bacaan yang tidak ada dasarnya dari para Aimmah Qiroah dan yang hanya didasarkan landasan-landasan yang tidak falid yang (karena bila tidak begitu) akan menimbulkan pergeseran dan perubahan ma'na terhadap Al Qur'an. Sebagai contoh: ayat 81 dari surat Al Anbiya':

z`»yJøn=Ý¡Ï9ur twÌh9$# ZpxÿϹ%tæ ̍øgrB ÿ¾Ín̍øBr'Î/ n<Î) ÇÚöF{$# ÓÉL©9$# $uZø.t»t/ $pkŽÏù 4

"Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu".

Beliau menyebutkan bahwa mayoritas para quro' membaca lafadz "ar riih" dengan nashob (fathah) karena sebagai maf'ul (obyek), tapi Abdur Rohman membacanya dengan rofa' (dhomah) karena sebagai mubtada'. Lalu beliau berkata: "Adapun bacaan yang tidak aku perbolehkan kecuali dengan selainnya adalah yang dibaca oleh mayoritas para ulama'.

Dan sebab mengapa beliau menyebutkan juga ilmu bacaan ayat, adalah bahwa beliau termasuk ulama' Qiroah yang masyhur, sampai mereka (para qurro' yang lainnya) mengatakan: "Bahwa baliau (ibnu Jarir) telah mengarang kitab khusus tentang ilmu bacaan, sebanyak 18 jilid, didalamnya beliau menyebutkan seluruh bacaan yang mayhur sekaligus bacaan yang nyeleweng dan menjelaskan, kemudian beliau memilih dari bacaan yang paling masyhur. Tapi walaupun kitab ini telah lenyap dengan berjalannya waktu, akan tetapi karangan-karangan beliau yang lain masih banyak.

E. Tentang Isroiliyat

Kita dapatkan juga beliau menyebutkan dalam tafsirnya mengenai kisah-kisah isroiliyat, yang beliau ambil dari Ka'ab Al Ahbar, Wahab bin Munabih, Ibnu Juraij, As Suda dan yang lainnya. Dan kita juga melihat beliau menukil banyak dari Muhammad bin Ishaq yang diriwayatkan oleh Maslamah seorang Nasroni.

Adapun sanad-sanad beliau yang masih membutuhkan penelitian adalah: "Dari Ibnu Hamid ia berkata kepadaku dan bercerita: "Bercerita kepada kami Salamah dari Ibnu Ishaq dari Abi Atab… ia seorang nasroni lalu masuk islam dan mempelajari Al Qur'an serta mendalami ilmu dien, disebutkan bahwa beliau memeluk agama nasroni 40 tahun dan memeluk islam 40 tahun juga. Cantoh ayat yang beliau riwayatkan dari orang Nasroni adalah Surat Al Isro' ayat 7.

÷bÎ) óOçFY|¡ômr& óOçFY|¡ômr& ö/ä3Å¡àÿRL{ ( ÷bÎ)ur öNè?ù'yr& $ygn=sù 4 #sŒÎ*sù uä!%y` ßôãur ÍotÅzFy$# (#qä«ÿ½Ý¡uŠÏ9 öNà6ydqã_ãr (#qè=äzôuÏ9ur yÉfó¡yJø9$# $yJŸ2 çnqè=yzyŠ tA¨rr& ;o§tB (#rçŽÉi9tFãŠÏ9ur $tB (#öqn=tã #·ŽÎ6÷Ks? ÇÐÈ

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai".

Dan juga dalam surat Al Kahfi ayat 94 tentang Ya'juz dan Ma'juz:

(#qä9$s% #x»tƒ Èû÷ütRös)ø9$# ¨bÎ) ylqã_ù'tƒ ylqã_ù'tBur tbrßÅ¡øÿãB Îû ÇÚöF{$# ö@ygsù ã@yèøgwU y7s9 %¹`öyz #n?tã br& Ÿ@yèøgrB $oYuZ÷t/ öNßgoY÷t/ur #ty ÇÒÍÈ

"Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj, itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?".

Walaupun beliau memberikan kritikan terhadap kisah-kisah isroiliyat ini, akan tetapi masih membutuhkan kritikan yang lebih detail lagi.

F. Meninggalkan hal yang tidak ada faedahnya untuk di permasalahkan

Beliau tidak banyak mempermasalahkan sesuatu yang kurang bermanfaat untuk dibahas, tidak seperti para mufassir lainnya. Seperti dalam surat Al Maedah ayat 112, 113, 114. dalam ayat ini tidak banyak menyinggung tentang macam makanan apa itu, dalam hal ini beliau netral dengan mengatakan "…tiada manfaat untuk mengetahuinya tetapi juga tidak membahayakan bila tidak bodoh terhadapnya…".

Begitu juga dengan surat Yusuf ayat 20, didalam ayat itu beliau tidak banyak mempermasalahkan tentang jumlah dirham, apakah itu 20 atau 22 atau bahkan 40 dirham, yang kemudian beliau mengatakan: "Adapun yang benar adalah Allah menghabarkan, bahwa mereka menjual dengan dirham yang berbilang tidak tertimbang (berat).[18]

G. Syair kuno

Metode memakai syair kuno ini didalam menafsirkan Al Qur'an, adalah beliau mengikuti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abas, seperti dalam tafsir beliau: surat Al Baqoroh ayat 22,…..فلا تجعلوا لله أندادا….. lafadz "nidd" beliau tafsirkan dengan menukil dari apa yang dikatakan oleh Abu Ja'far, adapun kata "Al Andad" adalah jama' dari kata "niddun" , sedangkan An Nid artinya serupa dan mitsal (tandingan) sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan ibnu Tsabit,:

أتهجوه ولست له بند فشركما لخيركما الفداء

Artinya:

H. Perhatian beliau terhadap madzhab Nahwu

Kita dapatkan beliau juga dalam menafsirkan banyak memaparkan para madzhab pakar nahwu dan shorof dari Bashroh dan kufi, kemudian merojihkan pendapat-pendapat yang ada, terkadang memenangkan madzhab Bashro dan juga terkadang mmenangkan madzhab Kufi. Sebagai salah satu contoh dalam ayat 18 surat Ibrohim:

ã@sW¨B šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. óOÎgÎn/tÎ/ ( óOßgè=»yJôãr& >Š$tBtx. ôN£tFô©$# ÏmÎ/ ßwÌh9$# Îû BQöqtƒ 7#Ϲ%tæ ( žw tbrâÏø)tƒ $£JÏB (#qç7|¡Ÿ2 4n?tã &äóÓx« 4 šÏ9ºsŒ uqèd ã@»n=žÒ9$# ßÏèt7ø9$# ÇÊÑÈ

"Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (didunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh".

Para pakar arab berselisih dalam merofa'kan lafadz "matsalu", maka pakar Nahwu Bashroh berkata; "hanyasannya seakan-seakan berkata: "ومما نقص عليكم مثل الذين كفروا " dan apa yang berkurang atas kalian itu seperti orang-orang kafir……

Sedangkan pakar Nahwu Kufi berkata: "hanyasannya perumpamaan itu untuk beberapa amalan, akan tetapi orang arab lebih meutamakan isim (kata benda), karena lebih ma'ruf. Maka ma'na kalamnya: "مثل الأعمال الذين كفروا بربهم كرماد .... " yaitu perumpaan amalan orang kafir terhadap mereka, itu seperti abu…..

I. Meneliti hukum-hukum fiqh

Di dalam tasir beliau juga didapatkan hukum-hukum fiqh. Beliau meneliti perkataan-perkataan para ulama' dan madzhab, metode ini murni dari pendapat beliau sendiri dan piihan beliau juga, namun beliau merojihkan permasalahan itu secara ilmiyah dengan dalil-dalil. Seperti dalam FirmanNya Surat An Nahl, ayat 8:

Ÿ@øsƒø:$#ur tA$tóÎ7ø9$#ur uŽÏJysø9$#ur $ydqç6Ÿ2÷ŽtIÏ9 ZpuZƒÎur 4 ß,è=øƒsur $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÑÈ

"Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, Agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya."

Kita dapatkan beliau memaparkan pendapat-pendapat para ulama' tentang hukum memakan daging kuda Bighol, dan keledai, disini beliau memaparkan setiap komentar para ulama' plus sanadnya. Lalu terakhir kali beliau memilih pendapat-pendapat yang dianggapnya paling rojih, yaitu: "Bahwa ayat itu tidak menunjukkan keharaman daging hewan-hewan dalam ayat itu.

J. Ketelitian dan kedalaman ilmu beliau dalam hal Ilmu kalam

Kami tidak akan lupa untuk memeringatkan terhadap apa yang kami perhatikan dari tafsir besar ini: "yaitu penolakan beliau terhadap sebagian Ilmu-ilmu kalam dikebanyakan ayat-ayat Al Qur'an. Dan sebagai bukti adalah bahwa beliau sangat ahli tentang Aqidah. Yaitu jika ada ayat yang sesuai dengan ayat maka beliau menerangkannya. Dan ketika berdebat dengan para pakar ilmu kalam maka beliau mahir dalam mengutarakan argumennya. Walaupun beliau sangat mahir dalam berdebat, namun pendapat beliau tetap sesuai dengan pendapat Ahlus Sunnah, dan itu nampak jelas pada saat beliau menolak pendapat Qodariyah dalam masalah Ikhtiyari.

Sebagai satu contoh: dalam tafsir sebuah ayat akhir surat Al Fatihah "غير المغضوب عليهم ولا الضالين " maka kita dapatkan beliau berkomentar: "Sungguh sebagian orang bodoh dari Qodariyah berpendapat sesungguhnya didalam pensifatan Allah terhadap orang Nasroni dengan kesesatan sebagaimana firmanNya: "ولا الضالين" dan sesungguhnya didalam menyandarkan kesesatan kepada mereka, tidak boleh menyandarkan pensesatannya kepada Allah dan menolak pensifatan Allah terhadap mereka sebagai orang-orang yang disesatkan, sebagaimana Allah mensifati orang Yahudi, bahwa mereka adalah yang dimurkai, ini adalah sebagai bukti bahwa benarlah apa yang dikatakan oleh mereka karena kebodohan Qodariyah. Akan tetapi sekiranya perkaranya seperti apa yang dikira orang bodoh itu, maka wajib setiap yang disifati dengan sebuah sifat atau perbuatan yang disandarkan kepadanya, tidak boleh didalamnya sebab untuk yang lainnya. Dan hendaklah setiap yang terjadi didalam (permasalahan itu) adalah termasuk dari perbuatan Allah. Kalau begitu maka salahlah perkataan: "Pohon itu bergerak jika digerakan oleh angin, dan Bumi bergoncang bila gempa menggoncangnya". (maksudnya adalah bahwa Qodariyah menganggap bahwa sebab itu ditimbulkan oleh dirinya sendiri dan tidak ada campur tangan yang lainnya).

Dan beliau banyak kita dapatkan beliau berusaha menolak pendapat Mu'tazilah karena mereka lebih banyak berbicara dalam masalah Aqidah. Maka kita bisa lihat perdebatan beliau yang meruncing tentang tafsir mereka yang memakai akal, sebagai contoh adalah Ru'yatulloh yang ditetapkan Ahlus Sunnah. Dan kita lihat beliau menafsirkan sesuai dengan madzhab salaf yaitu tanpa merubah ayat-ayat tentang sifat dari dhohirnya, bersamaan dengan itu beliau juga menolak pemikiran Tajsim (meyakini Allah itu berbadan) dan Tasybih (mnyerupakan) dan menolak mereka yang menyerupakan Allah dengan manusia. Bisa dilihat apa yang beliau tulis dalam menafsirkan surat Al Maidah: 64. [19]

K. Referensi beliau dalam menafsirkan

Beliau banyak menukil dari perkataan-perkataan para mufassirin terdahulu, seperti beliau menukil dari Ibnu Abas, Ibnu Mas'ud, Ali bin Abi Tholib, Ubay bin Ka'ab. Beliau juga mengambil manfaat dari apa yang beliau kumpulkan dari Ibnu Juraij, As Suda, Ibnu Ishaq dan yang lainnya dari tafsir-tafsir yang menjadikan kitab tafsir ini sebagai kitab terbesar tentang tafsir bil Ma'tsur.

L. Waktu yang dibutuhkan beliau dalam menyelesaikan kitab tafsirnya.

Didalam kitab Mu'jamul Udaba' disebutkan: "bahwa Ath Thobari menyempurnakan tafsirnya dalam waktu 7 th.

VI. KARANGAN-KARANGAN BELIAU

Beliau adalah seorang laki-laki yang mempunyai ilmu yang sangat luas, maka tidak heran jika karangan beliau tak bisa dihitung hanya dengan waktu 1000 detik. Namun sangat disayangkan, mayoritas kitab beliau hilang dan tidak samapai kepada kita kecuali hanya sedikit. Disini tidak akan kami sebutkan, dan bisa dilihat dalam kitab Tafsir Ibnu Jarir dalam Muqodimah pentahqiq (peneliti), Abdulloh bin Abdur Rohman at Turki:

1. Kitab Adabul Qodho' ( Al Hukkam)

2. Kitab Adabul Manasik

3. Kitab Adabun Nufuus

4. Kitab Syaroi'il Islam

5. Kitab Ikhtilaful Ulama' atau Ikhtilaful Fuqoha' atau Ikhtilafu Ulama'il Amshor fie Akhkami Syaroi'il Islam.

6. Kitab Al Basith, tentang kitab ini beliau Imam Adz Dzahabi berkata: "Pembahasan pertama adalah tentang thoharoh, dan semua kitab itu berjumlah 1500 lembar.

7. Kitab Tarikhul Umam wal Muluk (Tarikhul Rusul wal Muluk)

8. Kitab Tarikhul Rijal minas Shohabah wat Tabi'in.

9. Kitabut Tabshir.

10. Tahdzib Atsar wa Tafsiilust Tsabit 'Ani Rosulillah Saw Minal Akhbar

11. kitab Tafsir beliau ini

12. Al Jaami' fiel Qiro'at

13. Haditsul Yaman

14. Ar Rod 'Ala Ibni 'Abdil Hakim

15. Kitabuz Zakat

16. Al 'Aqidah

17. Kitabul fadhoil

18. Fadhoil Ala Ibni Tholib

19. Mukhtashor Al Faroidz

20. Kitab Al Washoya,

Dan masih banyak lagi kitab-kitab beliau yang tidak kami sebutkan disini.[20]

.

VII. WAFAT BELIAU

Beliau wafat pada hari Ahad dua hari pada akhir bulan syawal tahun. Selama hidupnya, umur beliau mencapai 85 atau 86 tahun, dan dikuburkan di tanahnya Ya'qub di Bagdad. [21]

والله اعلم

REFERENSI

  • Abi Ja'far Muhammad bin Jarir Ath Thobari ( 224-310 H), Tahqiq DR. Abdur Rohman bin Abdul Muhsin Ath Thobari, Tafsir Ath Thobari Jami'ul Bayan 'An Ta'wili Ayil Qur'an, cetakan 1, Qohiroh 1422 H/ 2001. Markaz Al Buhuts wad Dirosat Al Arobiyah wal Islamiyah.
  • Al Imam Syamsuddien Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz Dzahabi, wafat 748 H. Siyar A'lamin Nubala, dan telah di tahqiq oleh Muhibbudien Abi Sa'id Umar bin Ghomah Al Amruwi.
  • DR. Muhammad Husain Adz Dzahabi, Tafsir Wal Mufassirun, pustaka Daarul Kutub Al Hadistah, cetakan ke-2, tahun (1396 H / 1976)
  • Mabahist fie Ulumil Qur'an oleh Manna'ul Qoththon, dicetak atas Nafkah perpustakaan dan percetakan Al Hidayah Surabaya, 1973 M / 1393.

Senin,15 Mei 2006

Fikris Shofa



[1] Amul adalah kota paling besar di Thobastan.

[2] Tafsir Ibnu Jarir At Thobari, juz: 1, hal: 12, dalam muqodimah tahqiqnya oleh DR. Abdulloh bin Abdur Rohman at Turki.

[3] Siyar A'lamin Nubala', juz 11 hal: 292.

[4] Siyar A'amin Nubala', Juz 11, hal : 294

[5] Siyar A'amin Nubala', Juz 11, hal : 296

[6] Siyar A'amin Nubala', Juz 11, hal : 296.

[7] Tafsir wal Mufassirun, juz 1, hal : 326.

[8] Tafsir Ibnu Jarir, juz: 1, hal : 55.

[9] Dinukil dari Mabahist fie Ulumil Al qur'an, Manna'ul Qotton, hal: 386.

[10] Al Itqon, Juz 2, hal: 190.

[11] Ibid

[12] Ini adalah teks asli, semoga yang beliau maksud adalah Ibnu Sulaiman, yaitu beliau Muqotil bin Sualaiman bin Basyir, sedangkan dia adalah orang yang dicurigai dengan pembohong.

[13] Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah, Juz, 2 hal: 192. dinukil dari kitab Tafsir wal Mufassiu, Juz: 1, hal : 208.

[14] Tafsir wal Mufassirun, 0Juz: 1, hal : 209.

[15] Ibid, hal: 210

[16] Tafsir Ibnu Jarir, juz: 16, hal: 13. dinukil dari Tafsir wal Mufassirun, hal: 213.

[17] Tafsir Ibnu jarir, juz: 16, hal: 13. dinukil dari tafsir wal Mufassirun, hal: 214.

[18] Tafsir Wal Mufassirun, juz 1, hal 216.

[19] Tafsir wal Mufassirun, juz I, hal 220-222.

[20] Tafsir Ibnu Jarir At Thobari, juz: 1, hal: 46, dalam muqodimah tahqiqnya oleh DR. Abdulloh bin Abdur Rohman at Turki.

[21] Ibid.

0 comments:

Post a Comment

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template