بسم الله الرحمن الرحيم
AL QUR’AN KALAMULLAH
BANTAHAN ATAS ANGGAPAN BAHWA AL QUR’AN
ADALAH MAKHLUK
Sesungguhnya Al qur’an adalah Kalamullah, berasal dari-Nya sebagai ucapan yang tak diketahui kaifiyahnya. Diturunkan kepada rasul-Nya sebagai wahyu. Diimani oleh kaum mukminin dengan sebenar-benarnya, mereka meyakini sebagai kalam llahi yang sesungguhnya. Barangsiapa mendengarnya dan menganggap itu adalah sebagai ucapan makhluk maka ia telah kafir. Allah sungguh telah mencela, menghina dan mengancamnya dengan Neraka Saqar. Allah berfirman :
”Aku akan memasukkannya kedalam (Naar) Saqar”. ( QS Al Muddatsir :26)
karena Allah mengancam seseorang dengan (Naar) saqar tatkala mengatakan :
إن هذا إلا قول البشر ( المدثر : 25 )
“Ini (Al qur’an) tidak lain hanyalah perkataan manusia “ (Al Muddatsir 25)
dengan ucapan itupun kita mengetahui bahwa Al Qur’an adalah kalam / ucapan Pencipta manusia dan tidak menyerupai ucapan manusia.
Ini sunggguh Qaidah yang mulia, salah satu diantara pondasi Islam yang besar. Banyak dari kelompok-kelompok ummat Islam yang tersesat dalam memahaminya. Semua yang dibeberkan oleh Ath Thohawi Rahimahullah adalah kebenaran yang didasarkan oleh banyak dalil-dalil dari Al kitab dan As sunnah bagi siapa yang mau merenunginya . Hal ini juga sudah diakui oleh fitrah manusia yang normal yang belum ternodai oleh berbagai syubhat , keraguan dan silang pendapat yang tidak benar.
Dalam persoalan “Al Kalam”, manusia berkelompok –kelompok mengikuti banyak ragam pendapat diantaranya:
- Al Qur’an adalah makhluk dan terpisah dari dzat Allah . Ini adalah pendapat Mu’tazilah.
- Al qur’an adalah pengertian abstrak yang terwujud mengikuti wujud Allah. Ia berupa perintah, larangan , berita dan pertanyaan uji. Apabila diungkapkan dengan bahasa Arab , ia menjadi Al qur’an. Apabila diungkapkan dengan bahasa Ibrani ia menjadi Taurat. Ini adalah pendapat Ibnu Kullab dan mereka yang sependapat dengannya seperti Asy’ari dan lain-lain.
- Sesungguhnya Allah akan terus berbicara jika Dia berkehendak, kapan dan bagaimana saja yang Ia kehendaki .Allah menyampaikan firman-Nya dengan suara yang terdengar. Sesungguhnya jenis (sifat) ucapan -Nya itu adalah tidak berawal meskipun suara tertentu yang terwujud dari-Nya tidak demikian. Pendapat ini dinukil dari para tokoh Ahli Hadist dan Ahlussunnah.
A. DALIL-DALIL AHLUSSUNNAH DALAM MENETAPKAN SIFAT AL KALAM BAGI ALLAH AZZA WA JALLA.
1. Allah berfirman :
“(kepada mereka dikatakan): ”salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb yang Maha Penyayang “ (Yasin : 58)
2.Allah berfirman
“ Dan Allah telah berfirman kepada Musa dengan langsung” (An Nisaa’ 164)
Allah ta’ala menegaskan bahwa dia benar-benar berbicara dengan imbuhan “kata kerja yang dibendakan” di akhir kata kerja “bicara” yang menunjukkan bahwa bicara di situ adalah sungguh-sungguh, bukannya sebagai kiasan. Sebagian di antara mereka ada yang pernah mengusulkan kepada Abu Amru bin Al-‘Alla –salah seorang imam Qori’ yang tujuh- :”saya ingin anda membaca ayat tersebut begini :
( و كلَّم اللهَ مُوْسَى تَكْلِيْمَا )
“Wakallamallaha Musa Takliman”
Lafadz Allah disitu dinisbatkan sebagai ibjek agar yang berbicara disitu Musa, bukannya Allah” maka Abu Amru menanggapi :”baiklah seandainya aku bisa membaca ayat itu demikian apa yang aku perbuat dengan firman Allah :
و لما جآء موسى لميقاتنا و كلمه ربه
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami)pada waktu yang telah kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung) kepadanya”.(Al-A’raf : 143)
maka bungkamlah orang mu’tazilah itu.
2. Allah juga berfirman :
3.
“Sesunguhnya orang – orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat dan Allah tidak akan berkata-kata dedngan mereka dan tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak (pula)mensucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih”
(QS Ali Imran : 77)
Juga dalam firmanNya :
“Tinggallah dengan hina di dalamnya , dan janganlah kamu berbicaara dengan Allah.” (AL-Mukminun : 108)
Kalau Allah tak juga mengajak berbicara hamba-hamba-Nya yang beriman, berarti mereka sama saja dengan musuh-musuh mereka, sehingga ketika Allah menghususkan untuk tidak mengajak orang-orang kafir, tak ada lagi artinya secara mendasar. (Berarti Allah akan berbicara dengan hamba-hambanya yang beriman , karena Dia telah menghususkan untuk tidak mengajak bicara dengan orang kafir).
4. Al-Bukhori menyatakan dalam shohihnya, bab : “ Berbicaranya Allah dengan pennghuni jannah “. Di situ beliau mengutip beberapa hadits.
5. Mensifati Allah dengan “ berbicara “, berarti mensiatinya dengan kesempurnaan. Sebaliknya bisu adalah sifat kelemahan .Allah berfirman :
“ Dan kaum Musa , setelaha kepergian Musa ke gunung thiur membuat perhiasan-perhiasan ( emas) mereka anak lembu yang bertubuh da besuara. Apakah mereka akan mengetahui bahwa anka lembu itu tidak dapat berbicara denagn mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka … “ ( Al-A’raf : 148 )
Maka para penyembah anak sapi itu meskipun mereka kafir mereka lebih mengenal Robb mereka dibandingkan dengan Al-Mu’tazilah. Mereka tak pernah mengatakan kepada Musa : “ Tapi Raab-mu juga tak berbicara. “ Allah berfirman tentang anak sapi itu :
“ Maka apakah mereka tidak memeperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak memberi jawaban kepada mereka , dantidak dapat memeberi kemudhorotan keada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan ( Thaha : 89)
Dapat dipahami disisni, bahwa ketidak mampuan anak sapi itu untuk memberi jawaban dan berbicara dijadikan alasan bawa dia bukanlah Rabb.
Madzhab MU’tazilah Dalam Persoalan Kalam Allah :
Penagnut Mu’tazilah beranaggapan bahwa Al-Quran tidakla berasal dari Allah subhanah wa ta’aala sebagaiman ucapan yang telah dinukil sebelumnya . Mereka menyatakan : “ Sesunguhnya penyandaran “ ucapan “ itu kepada Allah adalah sebagai penghormatan. Seperti juga : Rumah Allah, unta Allah ( dan lain-lain ) . Mereka menyimpangkan ucapan Allah kepada yang bukan meksudnya “. Pernyataan mereka jelas batil . Karena yang disandarakan kepada Allah itu bisa berupa materi, bisa juga berupa karakter. Kalau ynag disandarkan kepada-Nya materi , maka itu untuk penghormatan dan materi itu adalah mahluk. Seperti ruamah Allah , unta Allah ( dan lain-lain). Lain halnya kalau yang disandarkan kepadanya adalah karakter. Seperti ilmu Allah, kekuasaan Allah, Keperkasaan Alah, kemulian-Nya, Kebesaran-Nya, , ucapan-Nya, hidup-Nya, ke-Maha Tinggian-Nya , Keunggulan-Nya ( dan lain-lain ). Tak satupun diantaranya yag munkin menjadi mahkluk.
Puncakkdari kerancuana persepsi mereka adalah ketika mereka menyatakan : “ Kesimpulan begitu mengharuskan adanya penyerupaan Alah dengan mahluk-Nya atau penyoalan bentuk-Nya “. Kalau kita jawab :”Sesungguhnya Allah Ta’ala berbicara dengan ucapan yang sesuaia dengan kemulian-Nya “ ,rontoklah syubhat yang mereka lontarkan coba perhatikan firman Allah :
اليوم نختم علي أفواههم و تكلمنا أيديههم و تشهد أرجلهم بما كانوا يكسبون ( يس :65 )
“Pada hari ni kami ttup mulut mmereka , dan berkatala kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan “.
( Yasin : 65)
Kita percaya bahwa anggota badan dapat berbicar, tapi kita tidak tahu bagaiman bentuk pembicaraannya.
Demikian juga halnya makanan yang bertabih atau salamul hajar (batu yang memberi salam). Semua itu tanpa mulut yang, keluar darinya suara dari paru-paru dan bertumpu pada huruf-huruf yang terucap.
BANTAHAN TERHADAP PENDAPAT MU’TAZILAH DALAM PERMASALAHAN SIFAT ALLAH “AL KALAM”
1 . Pengambilan dalil mu’tazilah dari firman Allah :
“Allah adalah pencipta segala sesuatu “ (Ar Ra’du : 16)
Adapun alasan mereka dengan firman Allah tersebut ; bahwa al qur’an itu tergolong dalam keumuman kata “segala sesuatu” sehingga Al qur’anpun termasuk makhluk, maka sungguh itu alasan yang teramat aneh, dipandang dari beberapa segi :
a. Sesungguhnya perbuatan hamba seluruhnya menurut mereka adalah “bukan makhluk” Allah. Namun semata-mata ciptaan hambaNya secara mutlak. Perbuatan itu tidaklah diciptakan Allah sehingga mereka tidak menggolongan ucapan Allah “segala sesuatu”. Namun mereka menggolongkan ucapan Allah kedalam keumumannya. padahal itu adalah salah satu sifatNya . dengan ucapan Nya itulah segala makhluk tercipta , karena segala makhluk tercipta dengan perintahNya . Letak kerancuan persepsi batil mereka itu dengan dijadikannnya seluruh sifat Allah sebagai makhluk seperti Ilmu Kekuasaan dan lainnya itu sungguh merupakan suatu kekufuran yang nyata .(menurut mereka ) ilmu Allah itu adalah sesuatu, demikian pula kekuasannnNya dan hidupNya .semua tergolong keumuman “segala sesuatu” sehingga Maha suci Allah dari segala apa yang mereka lontarkan .
b. Keumuman kata “Segala sesuatu” pada setiap konteks mempunyai ukuran tersendiri . hal itu dapat diketahui dengan mengsingkronkan makna dengan kata lain. Seperti firman Allah :
” Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabb nya maka jadilah mereka tidak kelihatan kecuali (bekas-bekas)tempat tingggal mereka …
(al Ahkqaaf : 25)
Tempat tempat tinggal mereka adalah sesuatu . namun tidak termasuk keumuman segala sesuatu yang diluluhlantakkna oleh angin ? karena yang dimaksud dengan segala sesuatu disitu adalah segala sesuatu yang menurut kebiasaan layak dan pantas untuk dapat dihancurkan oleh angin. Sedangkan yang dimaksud dengan firman Allah
”Dan Dia pencipta segakla seseuatu”(Ar Ra’du: 16)
yaitu segala sesuatu yang tergolong makhluk. Segala sesuatu selain Allah adalah makhluk. Termasuk dalam katagori perbutan para hamba,secara hukum pasti. Dalam keumuman itu tidak termasuk sang Pencipta sendiri. Sedangkan sifat-sifat Allah adalah bagian tak terrpisahkan dari diriNya . karena itulah Allah tersifati dengan sifat-sifat Maha Sempurna dan sifat-sifat yang melekat terus pada diriNya yang maha suci
c. Dalil yang mereka jadikan hujjah itu justru menjadi bumerang bagi mereka sendiri karena kalau ucapan Allah “Allah adalah Pencipta segala sesuatu “ itu sebagai makhluk maka ucapan itu sendiri tak dapat dijadikan dalil.
2.Mereka juga berdalil dengan firman Allah :
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al Qur’an itu dalam bahasa Arab” (Az Zukhruf : 3)
Alangkah rusaknya cara pengambilan dalil seperti itu, sesungghuhnya kata kerja “Menjadikan:” kalau berarti “Menciptakan” ia merupakan kata kerja instransitif yang hany memmbutuhkan satu objek, sebagaiman firman Allah :
” Dan Dia menjadikan (menciptakan ) cahaya dari kegelapan.
Dan firmanNya :
”dan dari airlah Kami jadikan (ciptakan)sergala sesuatu yang hidup apakah merekatidak juga beriman ? (Al Anbiya’30)
adapun apabila kata kerja “menjadikan “ disitu membutuhkan dua objek, artinya bukanlah menciptakan. Sebagaimana dalam firmanNya :
“ dan ajanganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu, sesudah meneguhkannya, sedangkan kamu sudah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu) “ ( An Nahl : 91 )
demikian juga firmanNya dalam surat Al Baqarah : 224 , yang artinya :
“ Janganlah kamu jadikan (nama )Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang …..”
dan banyak lagi yang semisal dengan itu.
3. Mereka juga mengambil dalil Firman Allah :
” Dia (Musa) diseru dari ( arah ) pinggir lembah yang diberkahi ….”
Betapa rancunya cara mereka berdalil dengan firman Allah :
” Dia (Musa) diseru dari ( arah ) pinggir lembah yang diberkahi ….”
( Al Qashshash : 30 )
Bahwa ucapan Allah itu diciptakan olehNya di pohon tersebut hingga Musa mendengarnya ! seakan mereka buta dengan sambungan ayat sebelum dan sesudahnya. Karena Allah berfirman :
“maka tatkala Musa sampai ke tempat (api ) itu, diserulah dia dari ( arah ) pinggir lembah yang diberkahi ….”
Sedangkan “menyeru” itu sendiri adalah mengucapkan kata dari arah jauh. Maka Musa mendengar seruan itu dari pinggiran lembah. Kemudian Allah berfirman :
“ Dilembah yang diberkahi dari arah pohon kayu …..” artinya , seruan itu terdengar dilembah yang diberkahi dari arah pohon kayu. Sebagaimana kalau kita mengatakan :saya mendengar ucapan Zaid dari arah rumah. “dari rumah” disitu menunjukkan asal ucapan itu, bukan berarti rumah tersebut yang berbicara!
Kelau memeng ucapan Allah itu makhluk, maka pohon itulah yang mengatakan kepada Musa :” Wahai Musa, sesungguhnya aku ini Allah, Rabb sekalian alam.”Apakah mungkin selain Allah Rabb alam semesta akan mengucapkan :”sesungguhnya Aku adalah Allah, Rabb sekalian alam.”?
Mana mungkin Allah melontarkan satu ucapan yang dipakai oleh selainNya ? kalau itu mungkin , konsekuaensinya berarti segala ucapan yang Dia ciptakan pada benda-benda juga merupakan ucapanNya ? demikian juyga yang ia ciptakan pada diri binatang. Sehingga tak dapat dapat lagi dibedakan apakah Allah yang berbicara, atau Dia membuat makhlukNya berbicara ? sesungguhnya kulit-kulit manusia diakherat nanti akan berbbicara :” Allah membuat kami berbicara “. (Fushilat : 21), dan tidak mengucapkan :” Allah telah berbicara “. Bahkan konsekuensinya juga berarti Allah juga yang bebicara, ketika segala makhluk berbicara; baik itu dusta, bohong, kekufuran atau pun mengigau !! sungguh Maha Suci Allah dari semua itu. Pernyataan semacam itu mengharuskan adanya kemangunggalan Allah dengan makhlukNya. Ibnu Arabi pernah menyatakan :
# Segala ucapan yang ada ini adalah ucapanNya
#Tak ada bedanya yang beres maupun yang berantakan “!!!!
Kesimpulan yang seperti itulah yang diminta dengan tegas oleh Abdul Aziz dari Bisyr Al Murraisi dihadapan khalifah Al Makmun. Abdul Aziz berkata : “ satu dua natar tiga yang harus anda putuskan : mungkin anda menyatakan bahwa Alalh telah menciptakan Al Qur’an dan –bagi saya ia adalah kalamullah – pada diriNya sendiri; atau menciptakannya sebagai suatu yang berdiri sendiri ; atau Allah menciptakannya pada diri makhlukNya”?
Bisyr menjawab :”Pokoknya saya katakan bahwa Allah menciptakannya ( Al Qur’an ) sebagaimana dia menciptakan makhlukNya yang lain “. Dia menghindari jawaban. Khalifah Al Makmun menyela :” coba kamu jelaskan dulu persoalannya dan tinggalkan Bisyr yang sudah kehabisan jawaban.” Maka Abdul Aziz pun berkata :” kalau dikatakan bahwa Allah telah menciptakan Al Qur’an pada diriNya sendiri , itu jelas mustahil, karena Allah tak mungkin menjadi tempat diciptakannya para makhluk, dan pada dirinya tak terdapat satu makhlukpun. Kalau Allah menciptakannya pada diri makhlukNya yang lain , konsekuensinya dalam dalam teori dan analogi; setiap ucapan yang Allah ciptakan pada diri makhlukNya adalah ucapan Nya juga. Hal itu juga mustahil “.
Kalau dikatakan bahwa Allah menciptakannya diluar diriNya secara bebas, itu juga mustahil. Karena ucapan itu hanya berasal dari yang berbicara. Sebagaimana kehendak juga hanya dapat muncul dari yang berkehendak. Dan ilmu juga hanya berasal dari yang berilmu .sungguh tak dapat dibayangkan adanya ucapan menyendiri tanpa orang yang berrbicara. Nah, kalau dilihat dari berbagai sisi ini , jelas mustahil Al Qur’an itu disebut makhluk. Maka dapat diketahui bahwa ia adalah salah satu sifat Allah.
4. mereka meyatakan bahwa kesimpulan itu mengharuskan kebergantungan para makhlukNya padaNya.
Apabila mereka menyatakan bahwa kesimpulan itu mengharuskan kebergantungan para makhlukNya padaNya, kita jawab bahwa pernyataan itu masih bersifat global. Siapa dianatra para tokoh ulamna sebelum kamu sekalin yang menolak bahwa (dengan kesimpulan itu ) bahwa para makhluk memang bergantung kepadaNya???
Tidak diragukan lagi, bahwa para Rasul yang mengajak umatnya berbicara dan memberitakan mereka bahwa Allah memanggil, meyeru, dan berfirman, tak pernah memberitakan kepda mereka bahwa semua ( yang terlontar ) tadi adalah makhluk yang terpisah dari diriNya . sebaliknya yang yang diberitahuikan kepada mereka bahwa Allah sendirilah yang berbicara. UcapanNya itu berasal dariNya dan bukan dari selainNya. Dia sendirilah yang mengucapkannya dan bebicara dengan ucapan itu. Sebagaimana yang idnyatakan oleh Siti Aisyah radiyallahu ‘anha :” sungguh urusan yang ada pada diriku bagiku terlalu remeh untuk dibicarakan oleh Allah bagi diriiku dalam wahyu yang dibaca ( Al Qur’an “. Kalau yang diiinginkan dengan s emua itu adalah kebalikan dengan zhahirnya, tentu harus dijelaskan. Karena penjelasan yang ditunda pada saat yang dibutuhkan adalah haram.
Imam Abu Hanifah berkata dalam Al Fiqhul Akbar :
القرأن كلام الله , في المصاحف مكتوب , وفي القلوب محفوظ , وعلى الألسن مقروء , وعلى النبي منزل , ولفظنا بالقرأن مخلوق , وكتابتنا مخلوقة , والقرأن غير مخلوق
“ Al Qur’an adalah kalam Allah subhanau wata’ala, dia (Al Qur’an) tertulis dalam lembaran-lembaran, dihafal dalam hati, dengan lisan – lisan dibaca, kepada Nabi diturunkan, ucapan kita –kala membaca Al Qur’an – adalah makhluk, tulisan kita adalah makhluk , dan Al Qur’an bukanlah makhluk “
KESEPAKATAN AHLUSSUNAH BAHWA AL-QURAN ADALAH KALAMULLAH DAN BUKAN MAKHLUK
Secara global, penganut Ahlussunah seluruhnya dari penganut madzhab yang lain-lain, baik dari kalangan As salaf maupun Al Kholaf bersepakat bahawa Al-Qur’an adalah Kalamullah dan bukan makhluq. Akan tetapi generasi Islam belakangan berbeda pendapat , apakah kalamullah itu substansi abstrak yang berdiri sendiri, atau ia merupakan huruf dan suara yang diucapkan Allah, dimana sebelumnya Dia tidak berbicara. Atau Dia selalu berbicara kalau Dia berkehendak, kapan dan bagaimanapun saja, dan bahwasannya ucapannya itu tidak berawal.
Yang disimpulkan dari ucaopan Imam At-Thohawi Rahimahullah : Bahwa Allah akan terus berbicara bagaimana saja bila Ia menghendaki dan bahwa ucapannya itu tidak berawal. Demikian juga Dhahir ucapan Abu Hanifah Rahimahullah Dalam “Al-Fiqhul-Akbar”. Karena beliau menyatakan: “Al-Qur’an adalah Kalamullah, yang tertulis di dalam mushaf, dihafal di dalam hati, ddan dibaca dengan lidah.Dan diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, pelafalan Al-Qur’an itu adalah makhluq (tak diragukan lagi bahwa yang beliau maksudkan dengan pelafalan Al-Qur’an itu addalah bacaan seseorang ketika membacanya, perbuatannya, dan gerakan kedua bibirnya. Karena pelafalan Al-Qur’an itu memiliki dua pengertian :
1. Yang kita bicarakan.
2. Yang dilafalkan itu sendiri(Al-Qur’an). Barang siapa yang menyatakan bahwa pelafalan Al-Qur’an adalah makhluq, sedang yang dimaksud adalah yang ke dua, berarti dia telah mentatakan Al-Qur’an itu makhluq. Karena yang dilafalkan di situ adalah Al-Qur’an. Sedangkan ia adalah ucapan Allah. Tapi kalau yang dimaksudkan adalah yang pertama, maka ia tak bersalah dengan dengan maksudnya. Tapi perlu dihindari pernyataan tersebut dengan lafadz-lafadz yang samar seperti itu yang tidak ada landasannya dalam kitab maupun Sunnah. Oleh sebab itu Imam Ahmad Rahimahullah menyatakan:”Barang siapa yang menyatakan bahwa pelafalan Al-Qur’an adalah makhluq, maka ia adalah penganut Jahmiyyah, dan barang siapa yang menyatakan bukan makhluq, maka ia adalah Ahli Bid’ah”. Maksud Beliau Rahimahullah, bahwa palafalan Al-Qur’an dilontarkan dan ditujukan untuk dua pengertyian, sebagaimana telah kita terangkan. Kalau dikatakan secara mutlak bahwa pelafalan Al-Qur’an itu addalah makhluq, terkadang dapat mengesankan pengertiak ke dua. Hingga yang dilafalkan itu adalah makhluq dan irtu adalah keliru. Demikian juga bila dikatakan bahwa melafalkan Al-Qur’an secara mutlak adalah bukan makhluq, terkadang mengesankan makna yang pertama. Hingga artinya, bahwa perbuatan hamba ketika membacanya bukanlah makhluq. Dan itu pun keliru, karena dapat menghantarkan kepada bid’ah lainnyayaitu “Al-Ittihadiyah”. Maka Imam Ahmaf melarang kedua bentuk ungkapan tersebut). Lihat “MukhtashorAsh-Showa’iq Al-Mursalah” hal.421 dan seterusnya. Dan juga “Ma’arijul-Qobul I” hal.207, serta “Al-Ibanah” hal.32. tulisan kita(ketika menulis Al-Qur'an) adalah makhluq, bacaan kita (ketika membacanya) juga makhluq. Sedangkan Al-Qur’an itu sendiri bukanlah makhluq. Nabi Musa as. Mendengar ucapan Allah, ketika Allah mengajak Musa berbicara, Dia berbicara dengan ucapannya yang merupakan salah satu sifat-Nya yang tak berawal dan keka abadi. Dia berseru kepada Musa;”Wahai Musa”, sebagaimana dapat difahami dari firman-Nya :
Artinya:]
”Dan tatkala Musa datang (untuk munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan rabb telah berfirman(langsung kepadanya)( Al-A’raf:143.)
Dari situ dapat diketahui, adanya sanggahan terhadap orang dari pengikut dari Abu Hanifah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah substansi abstrak yang berdiri sendiri. Tak dapat dibayangkan bagaimana ia didemgar. Tapi Allah hanyalah menciptakan suara di udara”. Sebagaiman dinyatakan oleh Abu Manshur Al-Maturidi dan lain-lain.
KEKUFURAN ORANG YANG MENYATAKAN AL QUR’AN ADALAH MAKHLUK
Maka tidak diragukan lagi bahwa orang yang mengingkari al qur’an sebagai Kalam Allah (Ucapan Allah) atau justru mengatakan bahwa ia adalah ucapan Muhammad atau makhluk lainnya, manusia ataupun malaikat maka orang itu adalah kafir. Adapun oarang yang mengakui ia sebagai ucaapan Allah, namun kemudian menyimpangkan dan melencengkan pengertiannya maka ia identik dengan mereka yang menyatakan :”sesungguhnya ini tidak lain adalah ucapn mauisia”. Ia telah terjerumus kedalam kekufuran . mereka itulah orang-orang yang digelincirkan syetan.

0 comments:
Post a Comment